Selasa, 14 Februari 2012

Dasar-dasar Pemeriksaan Bakteri


    Untuk menetapkan nama atau identifikasi suatu kuman (bakteri) dari hasil isolasi, diperlukan urut-urutan pemeriksaan seperti berikut :
1.     Reaksi terhadap pewarnaan dan morfologi bakteri.
2.     Sifat-sifat pertumbuhan (media) dan morfologi koloni.
3.     Pengujian sifat-sifat fisiologis/reaksi biokimia dan gerak.
4.     Reaksi aglutinasi dan presipitasi.
5.     Pathogenitet hewan percobaan.
6.     Test kulit.
7.     Serologi (reaksi pengikat komplemen).

1.     Morfologi dan reaksi terhadap pewarnaan.
Untuk mengethui morfologi (bentuk) kuman dan sekaligus reaksi terhadap pewarnaan, dilakukan dengan pewarnaan Gram. Tetapi jika hanya untuk mengetahui adanya kuman dan bentuk saja, dapat diperiksa dengan pewarnaan Methylen biru. Dalam routine di laboratorium, biasanya dipulas dengan Gram, kecuali bakteri-bakteri tahan asam. Dengan mengetahui Gramnya suatu bakteri, dapat kita memilih media-media apa yang diperlukan.
            Dengan pewarnaan Gram dapat dibagi bakteri-bakteri itu atas 2 golongan : Gram positif dan Gram negatif.


Gram positif :
a.     Semua Bacillus, misalnya: B.substilis, B.anthrax, B.mycoides.
b.    Semua Clostridium, misalnya: Cl.tetani, Cl.botulinum, Cl.Welchii.
c.     Semua coccus, misalnya: Streptococcus, Staphylococcus, Pneumococcus, Gaffkya, Tetragena.
d.    Semua diphtheroid, misalnya: C.B.diphtheri, C.xerosis, C.Hoffman.
e.     Genus Mycobacterium, misalnya: @#$% tbc, lepra.
f.     Treponemataceae
g.    Sel-sel ragi (yeast).


Gram negatif :
a.     Bakteri-bakteri usus pathogen, misalnya: B typhus dan paratyphus, B.dysenteri.
b.    Bakteri-bakteri usus apathogen: E.coli, E.intermedium, A.aerogenes, Paracolobactrum.
c.     Semua Reisseria, misalnya: Gonococus, Meningococcus dan Neisseria lain.
d.    Semua bacteroid, misalnya: B.fragillis, B.funduliformis.
e.     Semua Brucella, misalnya: B.melitensis, B.Ab.Bang.
f.     Hemophilus2.
g.    Pasteurella.



2.     Media (perbenihan, kultur).
Untuk mengisolasi bakteri dari material (bahan) harus ditanam kepebenihan. Atas dasar pengamatan Gram dan morfologi bakteri, kita dapat memilih media apa yang diperlukan. Ada juga bahan yang tidak dapat dilakukan pewarnaan Gram, misalnya terhadap feces, darah. Tetapi dalam hal ini biasanya ada permintaan dari dokter yang ditujukan terhadap pemeriksaan suatu bakteri, misalnya  : pemeriksaan terhadap salmonella atau shigella atau vibrio (Salmonella bisa terdapat dalam feces dan darah, sedangkan shigella dan vibrio hanya terdapat dalam feces). Dengan demikian kita dapat  memilih media yang selektif untuk Gram negati staf atau media yang eksklusif bagi bakteri-bakteri yang bersangkutan.
            Bagaimana cara menanam dari material-material tersebut lihat halaman 28, dan bagaimana ciri-ciri (morfologi) koloninya lihat halaman 26. Di bawah ini diberikan contoh-contoh media yang diperlukan untuk mengisolasi bakteri-bakteri.

Media:                                        Untuk bakteri-bakteri:
1.     Agar biasa dan bouillon              : Streptococcus, Staphylococcus.
2.     Agar darah dan bouillon darah     : Streptococcus, Staphylococcus, Pneumococcus, Hemophilus influensa.
3.     Endo. S.S.agar, Leifson               :  Salmonella dan Shigella.
4.     Wilson-Blair                                  :  Salmonella typhi.
5.     Eosin Methylen Blue (E.M.B.agar) :  Shigella.
6.     Levinthal pelat agar                      :  Hemophilus influensa.
7.     Lowenstein, Finlayson, Dubos      :  Mycobacterium tuberculose.
8.     Alkalis pepton                              :  Enrichment untuk Vibrio.
9.     Gaal, Tetrathionat                         :  Enrichment untuk Salmonella.
10.  Telluriet, Loffler                            :  Corynebacterium diphtheriae.
11.  Agar darah-kentang-glycerin          :  Hemophilus pertusis.
12.  Soda agar, TCBS, Dieudonne       :  Vibrio (kolera dan ElTor).
13.  Vervoort dan Noguchi                   :  Leptospira.
14.  Tarozzi bouillon                            :  Clostridium (anaerobe).
15.  Sabouraud agar                           :  Ragi, Saccharomyces, Fungi, Torula, Monilia.
      dll.

3.     Reaksi Bio-Kimia.
Untuk membantu determinasi atau identifikasi suatu mikroba diperlukan pengujian sifat-sifat physiologik terhadap beberapa macam gula. Daya fermentasi (peragian) terhadap karbohidrat dari kuman-kuman itu satu sama lain berbeda-beda. Secara pasti sukar dimengerti mengapa suatu kuman dapat meragikan salah satu gula, sedangkan gula yang lainnya tidak. Padahal jika ditinjau dari sudut emphiris, gula itu adalah sama. Hal ini disebabkan mungkin adanya perbedaan letak atom-atom H dan OH di sekitar atom C.
            Gula-gula yang dipakai adalah monosaccharida, disaccharida, trisaccharida. Tiap jenis gula terdapat dalam air-pepton, kadarnya kira-kira 1%. Dalam tabung-tabung peragian ini dimasukkan satu tabung kecil letaknya terbalik, untuk menampung gas yang terbentuk. Tabung peragian ini disebut ”tabung Durham”.  Untuk mengetahui adanya peragian atau tidak maka ke dalam perbenihan dibubuhi suatu indikator sebagai petunjuk asam dan basa. Indikator yang biasanya dipakai dalam peragian gula-gula ini, ialah :
a.     Azolitmin, dalam keadaan netral atau sedikit basa warnanya violet (ungu), dalam keadaan asam warnanya kuning.
b.    Phenol-red, dalam keadaan netral atau sedikit basa warnanya merah dan dalam keadaan asam warnanya kuning.
Bila suatu bakteri ditanam ke peragian ini, maka terdapat 3 kemungkinan :
1.     Bakteri tidak meragikan gula atau terbentuk alkalis sedikit, sehingga warna indikator dalam tabung peragian tidak berubah. Kita catat sebagai : Peragian negatif (-).
2.     Bakteri meragikan gula, tidak membentuk gas. Karena adanya peragian ini terbentuk asam yang menyebabkan warna indikator berubah dan perubahan ini dapat dilihat. Kita catat sebagai : Peragian positif (+).
3.     Bakteri meragikan gula dan membentuk gas, terjadi perubahan indikator dan gas yang terbentuk masuk ke dalam tabung Durham. Gas ini dapat kita lihat, yaitu isi tabung Durham jernih. Kita catat sebagai : Peragian positif dan membentuk gas (+g). 

Untuk melakukan pemeriksaan reaksi bio-kimia, di laboratorium disebut ”jajaran warna” (jajaran panjang) mungkin karena tutup macam-macam gula itu berwarna-warni. Jajaran warna secara routine biasanya terdiri dari :


a.     Agar miring.
b.    Glukose.
c.     Lactose.
d.    Seitz.
e.     Mannit.
f.     Maltose.
g.    Saccharose.
h.     Indol.
i.      Methyl red.
j.      Simon citrat.
k.     Voges Proskauer.
l.      Urea.
m.   T.S.A (T.S.I).
n.     Semi-solid.


Sesudah 1-2 hari disimpan pada suhu 37°C (kecuali semi-solid disimpan pada suhu kamar), hasil reaksi dan peragian dapat dibaca.

Cara melakukan pemeriksaan reaksi biokimia.
            Pemeriksaan reaksi biokimia, pada umumnya dilakukan terhadap Gram negatif staf. Material yang telah ditanam pada media untuk Gram negatif staf, seperti Endo agar, S.S. agar dan Leifson secara apusan, sesudah dikeram pada inkubator 37°C selama 24 jam, tumbuhlah koloni-koloni bakteri. Pilihlah koloni-koloni yang rein, kemudian dengan jarum diambil 1 koloni dan ditanam ke perbenihan bouillon 1 ml. Bouillon dieram pada suhu 37°C kira-kira 30 menit, seterusnya ditanam kejajaran warna seperti di atas, dengan ose dan jarum. Untuk citrat, urea, T.S.A. dan semi solid ditanam dengan jarum, selainnya dengan ose.
~         Citrat  : Tusuk sampai ke dasar tabung, kemudian goreskan pada permukaan citrat agar.
~         Urea   : Penanaman dilakukan dengan melakukan goresan pada permukaan urea-agar.
~         T.S.A : Tusuk sampai ke dasar tabung, kemudian goreskan pada permukaan.
~         Semi-solid : Tusuk sampai ke dasar tabung, kemudian jarum ditarik pelan-pelan, melihat gerak.
Penanaman harus secepat mungkin dan aseptis.

4.     Agglutinasi dan presipitasi.
Reaksi agglutinasi dilakukan di atas gelas-objek yang bersih, sedangkan reaksi presipitasi dilakukan pada tabung kecel, dengan memakai antiserum. Antiserum diperoleh dengan menyuntik kelinci beberapa kali dengan kuman yang telah dimatikan. Darah kelinci diambil sesudah dibiarkan membeku dan diputar maka cairan yang jernih sebelah atas tabung putar terdapat serum yang mengandung antibody, misalnya : agglutinin atau presipitin. Serum ini di laboratorium disebut antiserum. Antiserum ini beragglutinasi dengan bakteri yang homolog (sebagai agglutinogen) ran reaksinya adalah khas (spesifik).
            Reaksi agglutinasi antara lain dilakukan terhadap pemeriksaan : Salmonella, Shigella, Pneumococ, Vibrio. Sedangkan presipitat antara lain dilakukan terhadap pemeriksaan : Brucella, Anthrax (Ascoli test), Yeast dan Fungi, dll.
            Sebagai contoh dapat dikemukakan di sini :
a)     Pada pemeriksaan feces (tinja) dari seorang pasien dapat dipisahkan sejenis bakteri yang menurut sifat-sifat pertumbuhan dan sifat-sifat biokimianya seperti kuman typhus (Salmonella typhi). Berdasarkan pengamatan sifat-sifat ini saja belum dapat ditetapkan diagnosa, pemeriksaan harus dilengkapi dengan agglutinasi dengan antiserum typhus. Bila terjadi agglutinasi positif, barulah dapat diberikan/ditetapkan nama kuman tadi. Sebaliknya jika agglutinasi negatif, pasti bukan kuman typhus (Salmonella typhi).
b)    Demikian juga halnya jika dari urine pasien dapat diisolasi suatu kuman yang sifat-sifat pertumbuhannya dan sifat-sifat biokimianya sama dengan kuman paratyphus, untuk memastikan diagnosa, harus dilengkapi dengan agglutinasi antiserum2 paratyphus.
c)     Begitu juga kalau dari feces penderita dapat diisolasi suatu kuman yang sifat-sifat pertumbuhan dan sifat-sifat biokimianya sama dengan Shigella. Maka untuk menetapkan diagnosa dan penetapan jenis Shigella tersebut harus dilanjutkan dengan pemeriksaan agglutinasi, dengan mempergunakan antiserum2 Shigella.
Dari contoh-contoh di atas dapat diambil kesimpulan bahwa untuk menetapkan diagnosa/nama bakteri yang dapat diasingkan, misalnya untuk Salmonella, Shigella, Vibrio harus dilengkapi dengan agglutinasi.

5.     Pathogenitet hewan percobaan.
Untuk menetapkan diagnosa terhadap beberapa kuman penyakit diperlukan percobaan hewan. Hewan atau binatang yang dipergunakan harus sensitif (peka = rentan) terhadap kuman yang bersangkutan. Pada hewan-hewan percobaan tersebut harus dijumpai kembali kuman-kuman tersebut, atau menimbulkan gejala-gejala yang spesifik (Postulate Koch).
Contoh-contoh :
    Mycobacterium tuberculose type human dan bovine sensitif terhadap marmut. Tipe bovine saja sensitive terhadap sapi dan kelinci dan sapi.
    Pasteurella pestis sensitive terhadap marmut.
    Pneumococcus sensitive terhadap tikus putih kecil.
    Percobaan rabies binatang kera dan tikus putih kecil (Habel mouse test).

6.     Test kulit.
Beberapa kuman memerlukan test kulit untuk memperlengkapi diagnosa. Contoh yang dilakukan test kulit, ialah :
a.     Beta Streptococus.
b.    Pneumococcus.
c.     Myc.tuberkulose.
d.    C.diphtheriae.
e.     Brucella.
f.     Yeast dan Fungi, dll.

7.     Serologi.
Beberapa penyakit dapat diperiksa dengan “complement fixation test” (reaksi pengikat komplemen). Untuk reaksi ini diperlukan : ekstrak-antigen, amboceptor, serum-pasien, eritrosit biri-biri dan serum komplemen. Cara-cara melakukan complement fixation test, lihat diktat serologi. Yang dapat diperiksa dengan test ini, antara lain:
a.     Gonococcus (gonorrhoea).
b.    Brucella.
c.     Yeast dan Fungi.
d.    Treponema (penyakit syphilis), dll.
            Di dalam routine (pekerjaan sehari-hari) pemeriksaan bakteri hanya dilakukan dengan: pewarnaan, kultur (media), reaksi biokimia, agglutinasi dan percobaan hewan.

0 komentar:

Poskan Komentar