Senin, 10 Juni 2013

Loa-loa


Sinonim                                : Cacing mata Afrika, cacing Loa, Filaria oculi
Nama penyakit                    : Loaiasis, calabar swelling (fugitive swelling), Tropical
                                                 swelling dan Afrika eyeworm
Vektor                                    : Chrysops
Hospes                                 : Manusia
Habitat                                   : Cacing dewasa terdapat di jaringan subkutan
  manusia. Mikrofilaria beredar dalam darah pada
  siang hari (diurna) dan hidup di kapiler darah paru
  pada malam hari. Dapat juga diketemukan di urin,
  dahak dan terkadang dalam cairan sumsum tulang
  belakang.
Distribusi geografik           : Banyak ditemukan di Afrika Barat dan Afrika Tengah


Gambar Chrysops
Klasifikasi ilmiah
Kingdom                                : Animalia
Filum                                      : Nemathelmynthes
Kelas                                      : Nematoda
Order                                      : Spirurida
Superfamili                           : Filarioidea
Keluarga                                : Onchocercidae
Genus                                    : Loa
Spesies                                  : Loa loa
Sejarah
  • Kasus pertama infeksi Loa loa tercatat di Karibia (Santo Domingo) pada tahun 1770. Seorang ahli bedah Prancis bernama Mongin mencoba tetapi gagal untuk menghapus cacing yang lewat di mata seorang wanita. Beberapa tahun kemudian, pada 1778, ahli bedah Guyot Francois dapat melakukan pembedahan pada cacing di mata seorang budak dari Afrika Barat pada kapal Prancis ke Amerika.
  • Identifikasi microfilaria dibuat pada tahun 1890 oleh Stephen dokter mata McKenzie. Sebuah presentasi klinis umum loiasis, yang diamati pada tahun 1895 di pesisir kota Nigeria maka terciptalah nama Calabar swelling.
  • Pengamatan ini dibuat oleh seorang dokter mata Skotlandia bernama Douglas Argyll-Robertson, tetapi hubungan antara Loa loa dan Calabar swelling tidak disadari sampai tahun 1910 (oleh Dr Patrick Manson). Penentuan vektor lalat Chrysops diketahui pada tahun 1912 oleh British parasitologist Robert Thompson Leiper.

Morfologi
  • Cacing dewasa berbentuk seperti benang halus dan berwarna putih susu
  • Cacing betina : panjang tubuhnya dapat mencapai 7cm atau 50 - 70 <![if !vml]><![endif]> 0,5n mm
  • Cacing jantan : <![if !vml]><![endif]> 4cm atau 30-34<![if !vml]><![endif]>0,43 mm
  • Mikrofilaria : 250-300 mikron <![if !vml]><![endif]> 6-8,5 mokron, memiliki sarung/selubung


                 Mikrofilaria                                        Cacing dewasa
        

Siklus Hidup
<![if !supportLists]>1.    <![endif]>Mikrofilaria yang beredar dalam darah dihisap oleh lalat Chrysops
  1. setelah <![if !vml]><![endif]> 10-12 hari didalam tubuh serangga, mikrofilaria tumbuh menjadi larva infektif yang ditandai dengan pergantian kulit
  2. kemudian ditularkan kepada manusia lainnya
  3. cacing dewasa hidup dalam tubuh manusia dalam waktu<![if !vml]><![endif]> 1-4 tahun, kemudian berkopulasi dan cacing dewasa betina mengeluarkan mikrofilaria.
  4. Cacing dewasa tumbuh dalam badan manusia dan dalam waktu 1  sampai 4 minggu mulai berkopulasi dan cacing betina dewasa mengeluarkan mikrofilarianya.
Patogenesis dan Gejala Klinik
<![if !supportLists]>·         <![endif]>Mikrofilaria biasanya tidak menimbulkan gejala
<![if !supportLists]>·         <![endif]>Cacing dewasa dapat diketemukan diseluruh tubuh dan sering kali menimbulkan ganguan di konjungtiva mata (sakit, pelupuk mata bengkak) dan pangkal hidung
<![if !supportLists]>·         <![endif]>Kelainan yang khas adalah Calabar Swelling atau fungitive swelling (pembengkakan jaringan yang berukuran sebesar telur ayam)
<![if !supportLists]>·         <![endif]>Jika cacing masuk ke otak dapat menyebabkan ensefalitis
Konjungtiva mata                           Calabar swelling
                 
Diagnosis
  1. Dengan menemukan mikrofilaria dalam darah yang diambil pada siang hari
  2. Dengan menemukan cacing dewasa dari konjungtiva mata ataupun dalam jaringan subkutan
Gambar cacing dewasa dari konjungtiva mata
Pengobatan
  • Pemberian dietilkarbamasin sitrat (DEC) dosis 2 mg/kgBB/hari, 3 x sehari selama 14 hari
  • Pembedahan untuk mengeluarkan cacing dewasa yang dapat dilakukan pada waktu melintasi jaringan punggung hidung atau pada waktu tampak di konjungtiva kornea
PENCEGAHAN
  1. Pengobatan secara teratur terhadap penderita
  2. Mengadakan pemberantasan vektor dan mencegah gigitan vektor tersebut
Prognosis
Prognosis biasanya baik apabila cacing dewasa telah dikeluarkan dari mata dan pengobatan berhasil dengan baik

Rabu, 15 Februari 2012

Staphylococcus dan Identifikasinya


medchrome.com
1.     Pendahuluan.
            Sebagian besar staphylococcus apathogen, hidup sebagai komensal pada tubuh manusia, misalnya pada kulit, tenggorokan, hidung, mulut. Banyak juga dijumpai pada debu-debu, di udara, makanan-makanan, dalam minuman-minuman dsb. Tetapi beberapa jenis dari staphylococcus dapat menyebabkan penyakit, terutama menyebabkan infeksi pada luka-luka (pyogenes). Diantaranya ada juga menyebabkan keracunan makanan, karena mengeluarkan racun (exotoxin). Jenis staphylococcus yang dapat menyebabkan penyakit, ialah :
~         Micrococcus pyogenes var.aureus. (Nama lama : Staphylococcus aureus).
~         Micrococcus pyogenes var.albus (Nama lama : Staphylococcus albus).
Staphylococcus ini dapat menyebabkan :
    infeksi-infeksi pada luka.
    furunkel (bisul, radang kulit), karbunkel (bisul-bisul yang berkumpul).
    abses (rongga berisi nanah).
    osteomyelitis akut (radang sumsum tulang).
    infeksi saluran kencing.
    mastitis (radang payudara).
    catarrhe urinary (radang selaput lendir dari saluran kencing).
    sepsis, septicaemia, pyaemia, dll.
Bila suatu bakteri masuk ke dalam darah dan belum berkembang biak disebut ”bacteriaemia”. Jika bakteri sudah berkembang biak sehingga tuan rumah sakit disebut “septicaemia”. Jika bakteri yang masuk ke dalam darah disertai dengan pembentukan nanah yang turut beredar dalam aliran darah, keadaan ini disebut “pyaemia”. Seandainya septicaemia dan pyaemia menjadi satu, keadaan ini disebut “septicopyaemia”, umumnya dinamakan “sepsis” saja (peracunan darah). Sepsis sangat berbahaya, tetapi dalam keadaan infeksi tidak selalu terjadi sepsis.

2.     Sifat-sifat staphylococcus.
Gram positif, bentuknya bulat berkumpul-kumpul seperti buah anggur. Aerobe dan fakultatif anaerobe. Tumbuh dalam media biasa, suhu optimium 37°C. Mengeluarkan beberapa pigmen.
Meragikan beberapa karbohidrat tanpa gas, misalnya : glukosa, laktosa, saccharosa, mannitol. Dapat melunakkan gelatin dan mengentalkan susu serta membentuk asam.

3.     Jenis-jenis staphylococcus (micrococcus).
a.     Staph.aureus (Micrococcus pyogenes var.aureus). mengeluarkan pigmen kuning-emas (aurum), pathogen.
b.    Staph.albus (Micrococcus pyogenes var.albus). mengeluarkan pigmen putih (albus), pathogen.
c.     Staph.citreus, mengeluarkan pigmen kuning jeruk (citrun), tidak pathogen.
d.    Staphylococcus apidermidis, adalah staphylococcus albus yang hidupnya komersal pada kulit.

4.     Pathogenitet.
Staphylococcus mengeluarkan toxin (exotoxin) dan toxin ini ada bermacam-macam.
A.    Exotoxin.
1)  Hemolysin : Exotoxin yang menghancurkan eritrosit. Hampir 80% staph. dapat mengeluarkan hemolysin ini.
2) Fibrinolysin : Exotoxin yang dapat menghancurkan bekuan darah.
3) Leucocidin : Exotoxin yang dapat menghancurkan leukosit (sel-sel darah putih).
4) Necrotoxin : Exotoxin yang dapat merusak kulit.
5) Enterotoxin : Exotoxin yang dapat menyebabkan keracunan makanan. Pada umumnya terdapat dalam makanan conserveren (makanan yang diawetkan).

B.    Pembikinan koagulase.
Ini adalah enzym yang dapat membekukan plasma darah. Enzym koagulase ini terdapat dalam Staphylococcus pyogenes (staphylococcus yang ganas).

C.    Pembikinan hyaluronidase.
Hyaluronidase, adalah enzym yang menghancurkan sel-sel kulit dan zat-zat yang terdapat di antara sel-sel kulit. Dengan demikian enzym ini mempermudah kuman-kuman staphylococcus atau kuman-kuman lain masuk ke dalam kulit.
Staphylococcus pyogenes (aureus) dapat merusak darah (hemolysis), Staphylococcus albus ada yang hemolysis ada yang tidak. Staph.citreus tidak menghemolysakan darah.

                                                                                                           
           DIAGNOSA.

Caranya :
            Bahan (material) yang diterima biasanya berupa pus (nanah), luka-luka infeksi, dll. Dibuat sediaan langsung dari bahan, disebut ”direct preparat” yang dilakukan dengan pewarnaan Methylenblue dan Gram. Pada direct preparat ini, coccus belum menunjukkan ciri-ciri staphylococcus, belum berkumpul-kumpul. Jadi dari sediaan langsung belum dapat ditetapkan diagnosa.
            Secara aseptis bahan ditanam ke perbenihan agar, agar-darah dan bouillon darah, secara goresan pada media padat dengan memakai ose. Media disimpan dalam inkubator 37°C selama 24 jam. Keesokan harinya perhatikan koloni-koloni yang tumbuh pada media.
Agar biasa      :             Koloni-koloni staphylococcus bulat-cakram, berkilat, besarnya 2-4 mm. Catat warna-warna koloni apakah : albus, aureus atau citreus.
Agar darah      : Koloni-koloni staphylococcus sedikit lebih besar dari agar, perhatikan apakah ada hemolysis beta atau gamma. Dari agar darah ini pun dapat dilihat pigmen staphylococcus.
Bouillon darah : Fungsinya sama dengan agar darah, yaitu untuk melihat adanya hemolysis atau tidak. Jika sebelah atas sediment eritrosit ada warna merah, berarti ada hemolysis (beta hemolysis). Tidak ada warna merah, hemolysis tidak terjadi (gamma hemolysis).

Koloni-koloni yang tersangka staphylococcus, baik dari agar maupun agar-darah, dilakukan pewarnaan Gram. Dalam pewarnaan ini bentuk Staphylococcus sudah jelas. Jika pada agar biasa masih diragukan pigmen staphylococcus, 1 koloni ditanam ke medium Loffler, eramkan 37°C selama 24 jam. Pada Loffler ini warna staphylococcus sudah jelas apakah : albus, aureu atau citreus. Sampai di sini sudah dapat diberikan diagnosa.
Memberikan diagnosa :
1.     Misalnya Gram preparat dari agar/agar darah terdapat Staphylococcus. Pada agar/Loffler warnanya albus. Pada agar darah : anhemolyse (gamma hemolyse).
Diagnosa : Staphylococcus albus anhemolyticus.
2.     jika pada agar/Loffler terbentuk pigmen : aureus dan pada agar darah : hemolysis (beta hemolysis).
Diagnosa : Staphylococcus aureus hemolyticus.

Percobaan koagulase (Staphylococcus aureus).
a)     Sediakan 2 tabung reaksi yang steril, masing-masing dimasukkan 0,5 ml plasma kelinci (plasma manusia) yang diambil dengan antikoagulan citrat.
b)    Kepada 1 tabung dimasukkan 0,5 ml perbenihan Mic.pyogenes var.aureus yang umurnya 24 jam dalam bouillon biasa. Dapat juga diambil dari medium agar miring 24 jam yang disuspensikan di dalam plasma/air garam physiologik.
c)     Tabung lain dipakai sebagai pemeriksaan banding (kontrol) yaitu ditambah dengan 0,5 ml NaCl physiologik.
d)    Tabung kedua rendam dalam waterbath (inkubator) 37°C selama kira-kira 3 jam dan tiap 15 atau 30 menit dilihat apakah terbentuk koagulasi (penggumpalan). Terjadi penggumpalan koagulase test positif.
e)     Tabung kontrol harus negatif, tidak terjadi penggumpalan.
Koagulasi lebih cepat terbentuk bila terdapat juga enzym hemolytic.

Percobaan hewan.
            Staphylococcus aureus yang baru diisolasi dari pasien (luka-luka infeksi), sangat sensitif terhadap kelinci. Sedangkan terhadap tikus putih dan marmut kurang sensitif. Untuk percobaan ini, sedikit dari bahan Staph. dalam bouillon 24 jam , disuntikkan subcutan, sesudah beberapa hari terjadi ”abses local”. Suntikan intraveneus menimbulkan septicaemia atau pyaemia.

Pemeriksaan enterotoxin (keracunan makanan).
            Enterotoxin adalah racun yang menyebabkan gastroenteritis, buang-buang air dan muntah-muntah, terdapat dalam makanan dan daging yang diawetkan. Toxin ini tahan panas (thermostabile), sehingga walaupun makanan dimasak masih dapat menimbulkan gejala-gejala keracunan. Beberapa jenis dari Staphylococcus aureus dapat mengeluarkan enterotoxin.
            Untuk memeriksa enterotoxin dari Staphylococcus ini dapat dilakukan sebagai berikut : filtrat dari biakan staphylococcus dalam bouillon 24 jam, disuntikkan pada anak ayam intraperitonial. Dalam beberapa jam timbul gejala-gejala gastroenteritis : diare, muntah-muntah, berarti enterotoxin positif.

Selasa, 14 Februari 2012

Identifikasi Secara Umum Bakteri Gram Negatif

keymazk.wordpress.com
1.     Karbohidrat (gula-gula).
Untuk mengetahui apakah kuman dapat meragikan gula-gula atau tidak. Jika diragikan apakah terbentuk gas, yang dapat dilihat dalam tabung Durham. Dari peragian ini dapat diambil beberapa penafsiran :
~         Golongan coli dapat meragikan gula-gula di atas dan membentuk gas.
~         Paracolobactrum tidak dapat meragikan laktosa dan saccharosa, gula yang diragikan terbentuk gas.
~         Salmonella dan Shigella tidak dapat meragikan laktosa dan saccharosa.
~         Salmonella paratyphus membentuk gas pada gula-gula lain yang diragikan, sedangkan Salmonella typhi tidak membentuk gas.
~         Shigella juga tidak membentuk gas pada gula yang diragikan, kecuali Shigella New Castle dapat membentuk gas.
~         Vibrio baik biotype klasik maupun biotype ElTor hanya tidak dapat meragikan gula laktosa pada jajaran warna, tetapi tidak membentuk gas pada gula-gula yang diragikan.
2.     Seitz.
Seitz itu hanya untuk mengetahui apakah bakteri itu dapat membentuk asam atau basa.

3.     Semi-solid.
Semi solid, gunanya untuk mengetahui apakah bakteri dapat bergerak (motile) atau tidak bergerak (nonmotile). Bakteri-bakteri yang bergerak akan naik kepermukaan semi-solid, sedangkan bakteri-bakteri yang tidak bergerak hanya tumbuh pada tempat tusukan saja. Pada semi-solid tumbuhnya bakteri kelihatan seperti awan (embun) putih.



Contoh : Gerak +
1)     Serum vibrio.
2)     Serum salmonella (kecuali S.gallinarum dan B.pullorum pada burung).
3)     Golongan coli (kecuali A.Aerogenes).
4)     Malleomyces Pseudomallei.
dll.

Contoh : Gerak –
1)     Semua gol. shigella.
2)     Semua gol. coccus.
3)     Pasteurella pestis.
4)     Semua klebsiella.
5)     Malleomyces mallei.
6)     Aerobacter aerogenes.
dll.



4.     Indol test
Untuk test ini dipakai perbenihan air pepton yang mengandung trypthopan. Pepton yang banyak mengandung trypthopan ialah : Pepton-witte dan Bactopepton. Syarat perbenihan air pepton ialah harus bebas dari glukosa, karena jika ada glukosa, kuman meragikan glukosa menjadi asam. Suasana asam ini mencegah bekerjanya enzyme proteolytic untuk mencernakan tryptophan.
Prinsip reaksi :
            Bakteri yang ditanam pada air pepton, akan memecahkan tryptophan menjadi indol, skatol dan alanin. Indol dengan reagensia indol berwarna merah (rose). Warna merah ini dapat disebabkan oleh : methyl-indol dan alanine (hasil ikutan). Ada beberapa cara untuk mengetahui terbentuknya indol ini.
A.    Menurut Ehrlich.
R/   Paradimethylaminobenzaldehyde : 1 gram.
      Asam chlorida (HCl) pekat pa.       : 20 ml.
      Alkohol absolut (96%)                  : 95 ml.
Pemakaian :
            Kepada perbenihan air pepton yang telah ditanam dengan bakteri 37°C selama 1-2 hari, ditetesi dengan beberapa tetes reagensia. Terbentuk lapisan berwarna merah antara biakan dengan reagensia, reaksi indol positif. Jika tidak terbentuk warna merah, reaksi indol negatif. Jika tabung digoncang, warna merah larut, tambah lagi reagensia.
            Untuk mengetahui warna merah yang terjadi benar-benar karena indol atau karena reaksi ikutan, dapat dilakukan sebagai berikut :
a)     Kepada tabung yang positif tadi dibubuhi dengan chloroform, kocok. Tabung dibiarkan berdiri pada rak. Jika warna merah tetap ada di dalam larutan chloroform, reaksi Indol positif (warna merah bukan karena methylindol atau alanine).
b)    Kepada perbenihan air pepton yang telah ditanam seperti di atas, dibubuhi dengan campuran reagensia + kaliumpersulfat jenuh sama banyak (aa). Warna merah yang terjadi di sini, hanya disebabkan oleh Indol saja.

B.    Menurut Kovacs (modifikasi).
R/   Paradikethylaminobenzaldehyde   : 5 gram.
      Amylalkohol pa.                           : 75 ml.
      Asam chlorida pekat pa.               : 25 ml.
Pemakaian :
            Beberapa tetes kepada perbenihan telah ditanam dengan bakteri, terjadi warna merah maka reaksi Indol positif. Jika sesudah ditetesi dengan reagensia Indol berwarna kuning, berarti Indol negatif.
Reagensia Indol ini senantiasa disimpan dalam lemari es dan warnanya kuning.
5.     Methyl-red test (Clark dan Lubs).
Perbenihan yang dipakai ialah air-pepton yang mengandung glukosa 5% (glucose-phosphat-medium), sudah ditanam dengan bakteri, inkubator pada 37°C selama 1-2 hari ditetesi dengan indikator Methyl-red.
Prinsip : M.R. test gunanya untuk mengetahui apakah bakteri dapat membentuk H-ion yang banyak, sehingga pH di bawah 5 (asam). Keadaan asam ini bila ditetesi dengan reagensia M.R. terjadi warna merah pada lapisan permukaan. Terbentuknya warna kuning : negatif.
Reagensia M.R:
0,1 gram methyl-merah dilarutkan dalam 300 ml alkohol 95-96%, sesudah larut ditambah air sampai volume menjadi 500 ml. Reagensia ini senantiasa disimpan dalam lemari es.

6.     Voges Proskauer test.
Medium yang digunakan ialah sama dengan untuk M.R. test, yaitu glucose-phosphat-medium.
Prinsip : V.P. test gunanya untuk mengetahui apakah bakteri sanggup membentuk acetyl metyl carbinol dari glukosa yang ada dalam medium. Acetyl metyl carbinol ini adalah hasil dari pertengahan dari pencernaan glukosa. Dalam suasana alkalis, acetyl metyl carbinol membentuk warna merah pada lapisan sebelah atas dengan reagensia-reagensia Voges Proskauer.
            Untuk mengetahui terbentuknya acetyl metyl carbinol dapat diperiksa dengan bermacam-macam reagensia, yang terbaik menurut Barrit.
A.    Dengan reagensia Barrit.
1)     Kepada 1 ml kultur yang telah di-eram 1-2 hari pada 37°C ditambah dengan 0,6 ml alpha-naftol 5% dalam alkohol + 0,2 ml KOH 40%. Campur dan dalam 5-20 menit terbentuk warna merah-jambu, acetyl metyl carbinol positif (V.P. positif).
2)     Ada juga dilakukan sebagai berikut: kepada perbenihan 5 ml yang telah ditanam dengan bakteri, sesudah dieram 37°C selama 1-2 hari ditetesi dengan beberapa tetes KOH 16% + beberapa tetes 5% alpha-naftol. Terbentuk warna merah jambu pada lapisan permukaan : V.P. positif. Terbentuk warna hitam : V.P. negatif. Yang paling umum dipergunakan adalah dengan reagensia menurut Barrit.
B.    Dengan reagensia O’Meara.
Kepada 2 ml kultur + beberapa tetes NaOH (KOH) 40% yang mengandung reatin 0,3%. Campur dan bila terbentuk warna merah-eosin dalam waktu kira-kira 15 menit, V.P. positif. Pembentukan warna merah tidak boleh lewat dari 4 jam.
C.    Dengan reagensia Werkman.
Kepada 5 ml kultur + 2-3 tetes FeCl3 kemudian ditambah dengan 10% NaOH (KOH) sama banyak, kocok sampai bercampur. Terbentuk warna merah pada permukaan medium, V.P. positif.

7.     Simon Citrat (Levine Koser).
Medium citrat sama dengan agar miring, warnanya hijau karena dibubuhi dengan indikator bromthymolblue.
Prinsip : Untuk mengetahui apakah bakteri-bakteri yang ditanam pada citrat, sanggup memecahkan Natrium-citrat, yang terdapat dalam medium menjadi NaOH dan asam citrat. Jika dapat dipecahkan maka suasana medium menjadi alkalis (basa) yang menyebabkan medium menjadi biru karena adanya indikator bromthymolblue. Jika tidak dipecahkan maka citrat tidak menjadi alkalis dan warnanya tetap hijau.
IMVIC test.
            Indol test, Methyl-red, Voges Proskauer dan Simon citrat, lazim dinamakan “IMVIC test”. Imvic test ini untuk membedakan (differensiasi) gol.coli. Ketiga jenis bakteri dari gol.coli pada Imvic test adalah sebagai berikut :
No
Jenis Bakteri
I
M
V
C
1
Escherisia coli
+
+
-
-
2
Esch. intermediet
-
+
-
+
3
Aerobacter aerogenes
-
-
+
+





(IO = uitilation citrate)
8.     Urea-agar.
 Perbenihan ini gunanya untuk mengetahui apakah bakteri dapat memecahkan urea atau mempunyai enzym urease.
Prinsip :
            Bila urea dipecah oleh enzym urease akan terbentuk : 2 NH3 + CO2. NH3 ini menyebabkan suasana alkalis sedikit dan dengan indikator phenol-merah pada medium menyebabkan warna merah jambu. Perbenihan warna merah jambu, Urea test positif.

9.     T.S.A. (T.S.I. = Triple Sugar Iron Agar)
T.S.A. berisi 3 macam gula, yaitu : glukosa, laktosa, saccharosa. Yang sama fungsinya dengan T.S.A. adalah K.I.A. (Kligler Iron Agar), di dalamnya hanya terdapat 2 macam gula : laktosa dan glukosa. Indikator dipakai phenol-red, sehingga T.S.I. (KIA) ini warnanya merah.
Prinsip :
            Bila bakteri dapat memecahkan ferroammoniumsulfat dan protein yang mengandung S menjadi H2S. Asam sulfida yang terbentuk ini dengan Fe++ menjadi FeS yang berwarna hitam. Warna hitam ini nampak pada garis tusukan media.
~         Terbentuk H2S atau warna hitam    : T.S.A. positif.
~         Tidak terbentuk H2S                      : T.S.A. negatif.
Medium ini terutama digunakan untuk membedakan dan sebagai biakan muka (biakan awal) dalam pemeriksaan golongan Salmonella, Shigella, Vibrio dan golongan Coli.

10.  Perbenihan Endo-agar.
Medium Endo-agar untuk mengisolasi bakteri-bakteri usus Gram negatif staf, dalam mana dapat dibedakan (differensiasi) koloni-koloni dari coli-aerogenes dengan bakteri-bakteri usus pathogen (Salmonella, Shigella dan Vibrio). Bakteri-bakteri Gram negatif staf apathogen (coli aerogenes) membentuk koloni-koloni yang merah dengan/tanpa merah kilat logam. Sedangkan bakteri-bakteri pathogen yang tidak meragikan laktosa, membentuk koloni ynag tidak berwarna seperti titik air (Salmonella, Shigella dan Vibrio).
Prinsip Endo.
            Perbenihan Endo-agar mengandung bermacam-macam bahan, antara lain : laktosa, fuchsin-basis dan Na-sulfit.
a.     Fuchsin dengan Na-sulfit membentuk senyawa yang tidak berwarna ”leucofuchsinsulfit”, yang sifatnya labil dan mudah direduksi.
b.    Misalnya kita tanam E.coli pada Endo, maka coli ini memecahkan laktosa menjadi aldehyde, seterusnya menjadi asam gula. Aldehyde mempunyai sifat yang mereduksi.
c.     Oleh aldehyde leucofuchsinsulfit direduksi menjadi fuchsin dan sulfit kembali, sehingga pada tempat (koloni) E.coli tumbuh terjadi penguraian. E.coli mempunyai ciri koloni : merah kilat logam. Sedangkan koloni-koloni E.intermedium dan Aerobacter aerogenes mempunyai koloni-koloni yang merah jambu tanpa merah kilat logam.
Bakteri yang tidak memecahkan laktosa seperti : Salmonella, Shigella, Vibrio tidak berwarna.

11.  Perbenihan Wilson-Blair (Bismuth Sulfite Agar).
Perbenihan W.B.agar khusus unuk mengisolasi bakteri typhus (Salmonella typhi). Bahan-bahan yang terdapat dalam medium ini, antara lain : Bismuth ammonium-citrat dan Na-sulfite.
Prinsip :
            Bakteri (S.typhi) yang dapat menguraikan Bismuth ammonium-citrat dan Na-sulfite, sehingga terbentuk Bismuth-Sulfite yang warnanya hitam. Koloni-koloni dari S.typhi pada W.B.agar berwarna hitam dan dikelilingi oleh suatu daerah yang menghitam. Jika dilihat dengan cahaya memantul, maka daerah ini menunjukkan kilat logam. Salmonella lain seperti : S.paratyphi A, S.typhimurium, S.cholera suis, membuat koloni-koloni yang berwarna hijau dan mendatar.

12.  Perbenihan Tarozzi bouillon.
Tarozzi bouillon untuk bakteri-bakteri yang anaerob. Di dalamnya terdapat potongan-potongan hati, kalsium karbonat dan paraffine.
a.     Bouillon untuk pertumbuhan bakteri (media).
b.    Potongan hati, gunanya untuk menetralkan hydrogen peroksida (H2O2) dari udara, karena hati itu mengandung enzym katalase.
c.     Kalsium-karbonat, gunanya untuk menetralkan asam yang mungkin terbentuk.
d.    Paraffin yang terdpat pada permukaan medium, untuk mencegah supaya udara jangan masuk ke dalam perbenihan Tarozzi bouillon.